Oleh: Labai Korok
Saat menginjakkan kaki di kawasan Plang Malioboro, Yogyakarta, tadi malam, ingatan saya kembali melayang ke tahun 2012. Kala itu, saya berkesempatan mengikuti seminar dan diskusi budaya bertajuk “Kaba dari Ranah” yang diselenggarakan di Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Solo Exhibition Kamal Guci yang berlangsung pada 22–29 April 2012. Pameran itu dibuka langsung oleh Fadli Zon, yang saat itu dikenal sebagai budayawan dan pemerhati seni nasional. Kini, beliau mengemban amanah sebagai Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.
Dalam seminar dan diskusi “Kaba dari Ranah”, hadir sejumlah tokoh yang memberikan pemikiran dan pandangannya. Bagindo Yohanes Wenpl tampil sebagai pembicara utama, sementara saya diundang sebagai budayawan Minangkabau dari kampung. Acara tersebut dimoderatori oleh Dio Pamola dan bertempat di UPT Galeri ISI Yogyakarta.
Dokumentasi kegiatan tersebut hingga kini masih dapat disaksikan melalui tautan YouTube berikut: https://youtu.be/nIZH06HGP-U?si=35FCgfLe6E6TkGSF
Melalui kesempatan itu, saya memperoleh pengalaman berharga untuk lebih mendalami kehidupan para perantau Minangkabau di Yogyakarta sekaligus mengenal lebih dekat masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Salah satu kesan yang masih membekas hingga hari ini adalah tingginya kepedulian para perantau terhadap kampung halaman. Semangat mereka dalam menjaga hubungan dengan ranah asal begitu terasa. Diskusi yang berlangsung saat itu sarat dengan nilai-nilai keilmuan, kebudayaan, dan kecintaan terhadap identitas daerah.
Kedatangan saya ke Yogyakarta kali ini memiliki tujuan yang berbeda. Saya datang untuk mengantarkan anak melanjutkan pendidikan ke Universitas Gadjah Mada (UGM). Momen ini semakin memperkuat kecintaan saya terhadap kota yang memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Menariknya, tadi malam saya juga berkesempatan bertemu kembali dengan beberapa tokoh perantau Minang yang dahulu hadir dalam acara tahun 2012 tersebut. Pertemuan itu menghadirkan nostalgia sekaligus mengingatkan bahwa ikatan persaudaraan antarsesama perantau tetap terjaga meski waktu terus berjalan.
Berbicara tentang Yogyakarta, tidak lengkap rasanya tanpa menyinggung sejarah keistimewaannya. Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki akar historis yang kuat, bermula dari berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdasarkan Perjanjian Giyanti tahun 1755. Dari sinilah lahir sebuah sistem pemerintahan yang kemudian berkembang hingga menjadi bagian penting dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Sementara itu, Kadipaten Pakualaman berdiri pada tahun 1813 di bawah kepemimpinan Pangeran Notokusumo yang bergelar Adipati Paku Alam I.
Sejak awal berdirinya, baik Kasultanan maupun Kadipaten merupakan entitas pemerintahan yang diakui kedaulatannya. Pada masa kolonial Belanda, hubungan politik keduanya dengan pemerintah kolonial diatur melalui sejumlah kontrak politik yang menunjukkan bahwa Yogyakarta memiliki posisi khusus dan tidak sepenuhnya tunduk kepada pemerintahan Hindia Belanda.
Keunikan sejarah tersebut menjadi salah satu alasan utama mengapa Yogyakarta memperoleh status sebagai daerah istimewa. Dalam perjalanan waktu, Yogyakarta berhasil bertransformasi dari sistem pemerintahan tradisional menuju tata kelola modern tanpa kehilangan akar budaya dan identitas historisnya.
Hubungan antara DIY dan Republik Indonesia juga sangat erat. Keberadaan DIY merupakan wujud nyata integrasi sebuah kerajaan ke dalam negara modern Indonesia. Pengakuan terhadap kekhususan tersebut kemudian dituangkan melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Bagi saya, Yogyakarta bukan sekadar kota pendidikan atau destinasi wisata. Kota ini adalah ruang perjumpaan antara sejarah, budaya, ilmu pengetahuan, dan persaudaraan. Setiap kunjungan selalu menghadirkan cerita baru sekaligus menghidupkan kembali kenangan lama yang penuh makna.
Yogyakarta mengajarkan bahwa kemajuan dapat berjalan seiring dengan pelestarian tradisi, dan bahwa kecintaan terhadap kampung halaman tetap dapat tumbuh subur di mana pun seseorang berada.

