Dari Padang ke Amerika: Kisah Feri Amsari, Anak Daerah yang Jadi Pakar Hukum Kelas Dunia

Budimannews.com – Nama Feri Amsari kini menjadi salah satu rujukan penting dalam dunia hukum tata negara di Indonesia. Ketegasannya dalam menguliti persoalan konstitusi kerap membuat pihak-pihak berkuasa merasa “panas”. Namun di balik sikap vokalnya di ruang publik, tersimpan perjalanan panjang seorang anak daerah dari Sumatera Barat yang menembus kerasnya pendidikan hukum hingga ke Amerika Serikat.

Feri lahir di Kota Padang pada 2 Oktober 1980. Ia merupakan putra Minangkabau dengan akar keluarga dari Bayang, Pesisir Selatan. Sejak kecil, kehidupannya diwarnai perpindahan karena mengikuti tugas sang ayah. Ia sempat mengenyam pendidikan di Muara Bungo, Jambi, hingga menamatkan sekolah di SMP Negeri 1 Muara Bungo dan SMA Negeri 1 Bungo pada 1999. Pengalaman berpindah-pindah ini membentuk karakter Feri yang adaptif namun tetap teguh pada prinsip.

Setelah lulus SMA, Feri kembali ke ranah Minang untuk melanjutkan studi hukum di Universitas Andalas (Unand). Di kampus, bakat kepemimpinannya mulai menonjol. Ia aktif dalam organisasi mahasiswa, bahkan dipercaya menjadi Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) sekaligus Ketua BEM Fakultas Hukum Unand periode 2002–2003. Selain itu, ia juga aktif di dunia jurnalistik kampus melalui Buletin Gema Justisia dan sempat meraih juara dalam lomba karya tulis ilmiah tingkat universitas.

Keseriusannya di dunia akademik membuahkan hasil gemilang. Setelah menyelesaikan studi S1 dengan fokus hukum tata negara, Feri melanjutkan pendidikan magister di Universitas Andalas dan lulus dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,9. Namun, langkahnya tidak berhenti di dalam negeri.

Feri berhasil menembus salah satu sekolah hukum bergengsi di Amerika Serikat, yakni William & Mary Law School di Virginia. Di sana, ia memperdalam perbandingan hukum antara Amerika dan Asia, yang kemudian menjadi bekal penting dalam kiprahnya mengawal demokrasi di Indonesia.

Sekembalinya ke tanah air, Feri mendedikasikan dirinya sebagai dosen di almamaternya, Universitas Andalas. Ia juga dipercaya memimpin Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) pada periode 2017–2023. Di bawah kepemimpinannya, PUSaKO dikenal sebagai lembaga yang vokal dan disegani karena konsisten memberikan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai menyimpang dari prinsip konstitusi.

Kini, nama Feri Amsari telah melintasi batas daerah. Dari seorang anak perantauan di Muara Bungo, ia bertransformasi menjadi pakar hukum kelas dunia yang diperhitungkan di tingkat nasional. Sosoknya menjadi bukti bahwa anak daerah, dengan integritas dan kegigihan, mampu menjadi penjaga nilai-nilai keadilan dan konstitusi bagi bangsa. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *