Enam Pahlawan Nasional Muhammadiyah dengan Jejak Emas di Sumatera

Padang, Budimannews.com – Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan sebagai bentuk penghormatan atas jasa para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan.

Bagi masyarakat Sumatera Barat, nama-nama seperti Buya Hamka atau Haji Agus Salim tentu sudah sangat familiar. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa ada sejumlah tokoh besar lainnya dari rahim Muhammadiyah yang memiliki peran penting dalam sejarah Sumatera dan perjuangan nasional Indonesia.

Berikut enam Pahlawan Nasional dari Muhammadiyah yang jejaknya patut kita kenang:

1. Lafran Pane – Pendiri HMI
Lahir di Sipirok pada 5 Februari 1922, Lafran Pane tumbuh dalam keluarga aktivis Muhammadiyah. Ia menempuh pendidikan di HIS Muhammadiyah Sibolga sebelum merantau ke Batavia.
Peran besarnya terlihat saat ia mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi mahasiswa Islam pertama di Indonesia, dengan misi mempertahankan kemerdekaan dan meningkatkan derajat umat.

2. Teuku Muhammad Hasan – Gubernur Pertama Sumatera
Tokoh asal Pidie, Aceh ini merupakan sosok penting dalam masa awal kemerdekaan. Ia aktif memajukan Muhammadiyah di Aceh dan mendirikan kepanduan Hizbul Wathan pada 1928.
Sebagai anggota BPUPKI, ia turut merumuskan UUD 1945 dan kemudian dipercaya menjadi Gubernur pertama Sumatera, yang saat itu mencakup wilayah sangat luas dengan pusat di Medan.

3. H. Adam Malik – Diplomat Ulung dan Wakil Presiden RI
Lahir di Pematangsiantar, Adam Malik memulai kiprah dari organisasi kepanduan Hizbul Wathan. Ia dikenal sebagai diplomat andal yang pernah menjabat Wakil Presiden RI periode 1978–1983.
Perannya sangat besar dalam Deklarasi Bangkok (pembentukan ASEAN) serta diplomasi internasional, termasuk upaya pengembalian Irian Barat ke pangkuan Indonesia.

4. Ir. Djuanda Kartawidjaja – Penggagas Negara Kepulauan
Djuanda dikenal lewat “Deklarasi Djuanda” yang menjadi tonggak penting dalam menyatukan wilayah daratan dan lautan Indonesia sebagai satu kesatuan.
Ia pernah menjabat menteri hingga 14 kali dan menjadi Perdana Menteri. Dedikasinya pada bangsa dimulai dari dunia pendidikan Muhammadiyah, saat ia memilih mengabdi dibanding mengejar karier akademik yang lebih menjanjikan.

5. AR Baswedan – Diplomat Muda Muhammadiyah
Lahir di Surabaya, AR Baswedan dikenal sebagai diplomat yang berjasa besar dalam memperoleh pengakuan kedaulatan Indonesia dari negara-negara Arab.
Sejak usia muda, ia aktif sebagai mubalig Muhammadiyah dan kemudian dipercaya menjadi anggota BPUPKI serta bagian dari misi diplomatik pertama Indonesia ke luar negeri.

6. dr. Sutomo – Pelopor Kebangkitan Nasional
Pendiri Budi Utomo ini juga memiliki kontribusi penting di Muhammadiyah sebagai penasihat kesehatan.
Ia dikenal sebagai dokter yang peduli terhadap rakyat kecil dan aktif mendorong kesadaran pentingnya layanan kesehatan modern, termasuk melalui pendirian fasilitas kesehatan Muhammadiyah.


Keenam tokoh tersebut membuktikan bahwa Muhammadiyah telah melahirkan pemimpin-pemimpin besar yang tidak hanya berkiprah di bidang keagamaan, tetapi juga dalam politik, diplomasi, pendidikan, hingga kemanusiaan.

Kisah mereka menjadi pengingat bahwa perjuangan bisa dimulai dari mana saja—dari bangku sekolah, organisasi kecil, hingga pengabdian tulus kepada masyarakat dan bangsa. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *