Cuaca Sumatera

Diperbarui 10.35 WIB · Sumber Open-Meteo
Medan
28°
⛅ Berawan
Padang
28°
⛅ Berawan
Pekanbaru
26°
🌦 Gerimis
Palembang
28°
🌤 Cerah berawan
Banda Aceh
32°
⛅ Berawan
Batam
29°
⛅ Berawan
Bandar Lampung
28°
☀️ Cerah
Budiman NewsAgamaBerita
Agama

Kiai Hasan Sahal di Hadapan Presiden: “Kalau Dimusuhi, Saya Tak Ngomong”

BNEWS — GONTOR, Minggu 20/09/2026 – Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi momentum yang tidak hanya merayakan perjalanan panjang pendidikan pesantren, tetapi juga menghadirkan pesan tentang pentingnya kejujuran, keberanian, dan keteguhan prinsip dalam kehidupan berbangsa.

Dalam acara yang turut dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor K.H. Hasan Abdullah Sahal menyampaikan pandangan dengan gaya khasnya yang lugas dan terbuka.

Di hadapan para tamu undangan, Kiai Hasan menyinggung sikap seseorang ketika berhadapan dengan kekuasaan.

“Kalau dimusuhi, saya-saya tak ngomong. Hari ini nggak datang. Orang nggak punya muka cari muka.”

Pernyataan tersebut disampaikan dalam suasana yang mendapat respons dari para peserta. Pesan yang muncul bukan sekadar soal keberanian berbicara, melainkan tentang pentingnya menjaga marwah, kejujuran, dan prinsip ketika berhadapan dengan siapa pun, termasuk pemegang kekuasaan.

Pesan Moral untuk Para Pemimpin

Kehadiran Presiden Prabowo dalam resepsi 100 tahun Gontor turut memberikan warna tersendiri dalam acara tersebut. Namun, panggung itu tidak hanya diisi dengan seremonial dan sambutan formal.

K.H. Hasan Abdullah Sahal justru menampilkan karakter pesantren yang dikenal menempatkan adab, ilmu, kemandirian, dan keberanian menyampaikan kebenaran sebagai bagian penting dari pendidikan.

Bagi dunia pesantren, hubungan antara ulama dan pemimpin bukan semata hubungan antara pemberi nasihat dan penerima nasihat. Lebih jauh, terdapat tanggung jawab moral untuk memastikan kekuasaan tetap mendapatkan masukan yang jujur dari masyarakat.

Karena itu, kritik dan nasihat tidak semestinya dipahami sebagai permusuhan.

100 Tahun Gontor, Bukan Sekadar Angka

Satu abad perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi penanda panjangnya kontribusi pesantren dalam membangun sumber daya manusia Indonesia.

Gontor tidak hanya berbicara mengenai pendidikan di ruang kelas. Tradisi pesantren juga membentuk karakter melalui disiplin, pengabdian, kemandirian, kepemimpinan, dan kehidupan bersama.

Momentum satu abad tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan harus melahirkan manusia yang memiliki ilmu sekaligus adab, serta mampu mengambil peran dalam kehidupan masyarakat dan bangsa.

Pesan yang disampaikan Kiai Hasan di hadapan Presiden menjadi bagian menarik dari momentum tersebut: seorang ulama tetap memiliki ruang untuk berbicara secara jujur, bahkan ketika berhadapan langsung dengan kekuasaan.

Dari Gontor untuk Indonesia

Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor akhirnya bukan hanya menjadi perayaan sejarah sebuah lembaga pendidikan.

Ia menjadi panggung refleksi tentang bagaimana ilmu, adab, kepemimpinan, dan keberanian moral harus terus berjalan beriringan.

Satu abad Gontor mengajarkan bahwa pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia yang memiliki prinsip dan keberanian menjaga kebenaran.

BNEWS — Akurat • Terpercaya • Untuk Semua

Berita Terkait

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *