Oleh: Labai Korok | budimannews.com
Pada tahun 2003, Bapak Herizal Lazran, yang akrab kami panggil Ustad Herizal, bertemu dengan Buya Mahyeldi di Jakarta dalam sebuah agenda partai. Pertemuan itu menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan politik beliau. Saat itu, Ustad Herizal diminta untuk pulang ke Sumatera Barat guna maju sebagai calon anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Daerah Pemilihan Sumbar II yang meliputi Padang Pariaman, Agam, Bukittinggi, dan Pariaman.
Dengan rekam jejak yang baik, jaringan Muhammadiyah yang kuat—ayah beliau dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah—serta dukungan konstituen dan berbagai elemen masyarakat, Alhamdulillah beliau berhasil terpilih menjadi Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, dan mengemban amanah selama beberapa periode.
Perlu diketahui oleh pembaca, Ustad Herizal Lazran merupakan tokoh senior dalam pergerakan dakwah Islam, khususnya di Jakarta. Kiprah dakwah itu telah beliau jalani sejak masa muda, bahkan sejak menjadi mahasiswa. Dalam perjalanan hidupnya, beliau pernah satu kamar di masjid kampus bersama Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc. Kedekatan beliau dengan berbagai tokoh nasional juga terjalin melalui aktivitas dakwah dan politik. Almarhum Ir. Joni Marbun, Ketua PBB Sumbar kala itu, juga kerap mengajak beliau bersilaturahmi dengan sejumlah tokoh nasional.
Semasa aktif berdakwah, Ustad Herizal juga dikenal pernah memberikan pengajaran nilai-nilai Islam kepada Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, M.Sc. Kisah ini pernah diceritakan langsung oleh mantan Gubernur Sumatera Barat tersebut kepada penulis dalam sebuah pertemuan di Istana Gubernur.
Bagi banyak kader dakwah Islam di Sumatera Barat, Ustad Herizal Lazran merupakan sosok panutan dan teladan. Beliau dikenal sebagai figur yang berusaha menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan parlemen, baik di tingkat provinsi maupun menjadi inspirasi bagi anggota DPRD kabupaten/kota.
Salah satu keteladanan yang sulit dilupakan adalah kebiasaan beliau membaca Al-Qur’an di sela-sela aktivitas dewan. Bahkan, ketika sidang berlangsung dan azan berkumandang, beliau dikenal sigap mengusulkan penghentian sidang sejenak untuk menunaikan salat berjamaah bersama anggota dewan dan pejabat yang hadir. Nilai-nilai spiritual seperti inilah yang menjadi ciri khas beliau dalam menjalankan amanah publik.
Tidak hanya aktif di gedung parlemen, Ustad Herizal juga dikenal dekat dengan masyarakat. Beliau rutin turun ke daerah pemilihan, hadir di masjid-masjid, memberikan ceramah, membina kader dakwah, dan memenuhi undangan masyarakat tanpa membedakan apakah wilayah tersebut merupakan basis politiknya atau tidak.
Banyak keteladanan beliau yang sejatinya bisa dituliskan lebih panjang. Namun dalam tulisan singkat ini, penulis hanya ingin mengenang sosok guru, ustad, sekaligus teladan yang kini telah mendahului kita.
Kabar duka itu menyebar cepat melalui berbagai grup WhatsApp dakwah dan pertemanan:
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Keluarga besar dan para sahabat menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Ust. Herizal Lazran, sosok kader senior yang dikenal mendedikasikan hidupnya untuk dakwah dan pelayanan masyarakat.
Beliau berpulang ke Rahmatullah pada Sabtu, 9 Mei 2026, pukul 20.00 WIB di Bogor, Jawa Barat.
Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam, terutama bagi mereka yang pernah dekat, belajar, dan berjuang bersama.
Bagi penulis pribadi, kehilangan ini terasa sangat mendalam. Sebagian perjalanan hidup penulis banyak bersinggungan dengan almarhum. Banyak nilai-nilai Islam, keteladanan, kesederhanaan, dan komitmen dakwah yang penulis pelajari dari beliau.
Kini, sosok itu telah dipanggil oleh Sang Khalik.
Hanya satu doa yang bisa penulis panjatkan:
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf beliau, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah menganugerahkan kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan.
Dan untuk almarhum guru kami…
InsyaAllah, kelak kita dipertemukan kembali dalam kehidupan yang abadi. Al-Fatihah.

