Oleh: Labai Korok | budimannews.com
Sejarah mencatat kisah Qarun yang hidup pada zaman Nabi Musa AS. Qarun adalah sosok yang pada awalnya mendapat keberkahan berupa kekayaan melimpah di masa pengaruh Nabi Musa. Ia memperoleh kenikmatan harta yang sangat besar, sebagaimana seseorang yang memperoleh kedudukan karena berada di bawah kekuasaan seorang pemimpin.
Jika dianalogikan dengan kondisi saat ini, hal itu tidak jauh berbeda dengan seorang pejabat daerah yang mendapatkan jabatan karena kepala daerah sedang berkuasa. Kekuasaan membuka jalan bagi seseorang untuk memperoleh posisi, pengaruh, dan kemudahan hidup.
Namun sayangnya, kesombongan dan kerakusan Qarun membuatnya lupa diri. Ia tidak mau berbagi dan tidak mensyukuri nikmat yang diberikan kepadanya. Akibatnya, ia pun lenyap bersama hartanya.
Diriwayatkan dari Qatadah, ia berkata, “Mereka ditenggelamkan secara berangsur-angsur, satu per satu setiap hari sampai hari kiamat.” Kisah ini menjadi pelajaran besar bagi siapa pun, termasuk para pejabat di daerah maupun di provinsi, agar tidak mengikuti jalan hidup Qarun.
Kisah tentang Qarun merupakan salah satu cerita yang cukup populer dalam Al-Qur’an. Kesombongannya atas harta yang melimpah bahkan diabadikan dalam kitab suci sebagai peringatan bagi umat manusia.
Pada awalnya, Qarun dikenal sebagai sosok yang hidup dalam kesulitan. Ia pernah berada dalam kondisi miskin dan menderita. Namun suatu hari ia memohon kepada Nabi Musa AS agar didoakan sehingga memperoleh kekayaan dan kejayaan. Doa Nabi Musa AS pun dikabulkan oleh Allah SWT, dan Qarun diberikan harta yang sangat berlimpah.
Sayangnya, setelah menjadi kaya, ia berubah menjadi pribadi yang angkuh dan sombong.
Allah SWT kemudian menurunkan azab kepadanya. Kisah ini tercatat dalam Surah Al-Qashash ayat 81:
“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya.”
Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya, dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda:
“Ketika seseorang menjulurkan pakaiannya dengan sombong, tiba-tiba ia ditenggelamkan ke dalam bumi hingga hari kiamat.” (HR Bukhari).
Dalam kitab Qashash Al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir yang diterjemahkan oleh Saefullah MS, diceritakan bahwa ketika Qarun berjalan di hadapan kaumnya dengan penampilan yang sangat megah—menaiki kendaraan terbaik, mengenakan pakaian terindah, dan dikelilingi kemewahan—ia melewati Nabi Musa AS dan para pengikutnya dengan penuh kesombongan.
Akhirnya, atas izin Allah SWT, Qarun ditenggelamkan ke dalam bumi bersama seluruh hartanya.
Kisah ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi siapa saja yang hari ini diberi amanah sebagai pejabat. Terlebih masyarakat Sumatera Barat memahami bahwa banyak pejabat duduk di posisi tertentu karena kekuasaan kepala daerah.
Perlu dipahami bahwa kekuasaan sejatinya berada di tengah masyarakat. Doa dan harapan masyarakat kepada Allah SWT bisa saja dikabulkan, termasuk dalam memberikan pelajaran kepada pemimpin yang lupa diri.
Hari ini, tidak sedikit pejabat dan kepala daerah yang seolah memiliki “dendam kemiskinan”. Ketika memperoleh jabatan, amanah tidak dijalankan dengan baik. Sebaliknya, muncul gaya hidup mewah, kesombongan, dan perilaku yang menyerupai Qarun sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an.
Padahal jabatan adalah amanah, bukan kemewahan. Kekuasaan adalah tanggung jawab, bukan kesempatan untuk menyombongkan diri.
Kisah Qarun mengingatkan kita semua bahwa harta, jabatan, dan kekuasaan bisa saja hilang dalam sekejap ketika manusia lupa bersyukur dan berlaku sombong.
Kalau Anda mau, saya juga bisa bantu:
- membuat judul yang lebih “menggigit” untuk media online,
- atau memformatnya menjadi artikel opini yang lebih kuat untuk portal berita.

