Cuaca Sumatera

Diperbarui 23.32 WIB · Sumber Open-Meteo
Medan
24°
🌦 Gerimis ringan
Padang
24°
🌦 Gerimis
Pekanbaru
24°
⛅ Berawan
Palembang
26°
⛅ Berawan
Banda Aceh
27°
⛅ Berawan
Batam
25°
🌦 Hujan lokal
Bandar Lampung
25°
🌤 Cerah berawan
Budiman News › Opini › Berita
Opini

Masjid Putra Malaysia, Ramai Dikunjungi Turis: Pelajaran untuk Masjid Raya Sumbar

Oleh: Labai Korok

BNEWS — Opini

Ada banyak cara menikmati perjalanan. Bagi saya, perjalanan bersama anak yang akan mulai kuliah di University Malaya menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat dan wajah Islam di Malaysia.

Sembari menunggu Muhammad Fathan Mubyna memulai kuliah pada Senin mendatang, kami menyempatkan diri berjalan-jalan ke kawasan Putrajaya, yang sering disebut sebagai salah satu pusat pemerintahan modern Malaysia. Di sana, kami singgah untuk menunaikan salat Zuhur di Masjid Putra.

Yang menarik perhatian saya bukan hanya kemegahan arsitektur Masjid Putra, tetapi juga bagaimana sebuah masjid mampu membuka diri sebagai tempat ibadah sekaligus destinasi wisata religi.

Turis Tetap Diterima, Aturan Tetap Dijaga

Masjid Putra terlihat ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai negara. Para pengunjung dapat menikmati keindahan arsitektur masjid tanpa mengganggu aktivitas ibadah jamaah.

Ada satu hal sederhana tetapi menurut saya sangat menarik untuk dipelajari dan mungkin dapat diterapkan di Masjid Raya Sumatera Barat.

Pengunjung yang datang dengan pakaian yang belum sesuai dengan ketentuan kesopanan di area masjid dapat diberikan pakaian penutup atau jaket oleh petugas. Dengan demikian, pengunjung tetap dapat masuk dan menikmati keindahan masjid, tetapi aturan mengenai kesopanan dan penghormatan terhadap tempat ibadah tetap terjaga.

Menurut saya, pendekatan seperti ini jauh lebih edukatif. Pengunjung tidak langsung dipermalukan atau diperlakukan seolah-olah melakukan kesalahan besar. Sebaliknya, mereka diberikan solusi agar dapat menyesuaikan diri dengan aturan masjid.

Di sisi lain, area wisatawan dan area utama untuk beribadah juga dapat diatur secara jelas. Pembatasan tersebut bukan berarti menutup masjid dari wisatawan, melainkan menjaga agar kegiatan ibadah tetap berlangsung dengan khusyuk.

Inilah yang menurut saya menarik: aturan tetap ada, tetapi keramahan juga dikedepankan.

Masjid Bukan Hanya Tempat Ibadah

Masjid pada dasarnya merupakan rumah ibadah. Namun, masjid yang memiliki nilai sejarah, arsitektur dan budaya juga dapat menjadi ruang edukasi bagi masyarakat luas.

Masjid Putra memperlihatkan bagaimana fungsi tersebut dapat berjalan beriringan. Wisatawan dapat melihat keindahan bangunan, mempelajari arsitektur Islam, mengenal budaya setempat, sekaligus memahami bahwa masjid memiliki aturan yang harus dihormati.

Pendekatan semacam ini patut menjadi bahan pemikiran bagi pengelola masjid di Indonesia, khususnya masjid-masjid besar yang menjadi tujuan wisatawan.

Masjid Raya Sumatera Barat, misalnya, memiliki daya tarik arsitektur yang sangat kuat. Bangunannya telah menjadi salah satu ikon Sumatera Barat. Karena itu, sangat wajar apabila masyarakat dari berbagai daerah, bahkan wisatawan mancanegara, ingin datang untuk melihat dan mengabadikan keindahannya.

Pertanyaannya kemudian: bagaimana membuat wisatawan merasa diterima tanpa mengurangi kehormatan dan kesakralan masjid?

Belajar dari Putrajaya

Pengalaman di Masjid Putra memberikan satu pelajaran sederhana: wisata religi tidak harus berhadapan dengan aturan.

Aturan justru dapat dikemas secara ramah.

Petugas dapat memberikan informasi kepada wisatawan mengenai batas area kunjungan, pakaian yang sesuai, waktu ibadah, serta tata tertib selama berada di lingkungan masjid.

Jika ada wisatawan yang pakaiannya belum sesuai, solusi sederhana seperti menyediakan kain penutup, jubah atau jaket khusus pengunjung bisa menjadi pilihan.

Dengan cara tersebut, wisatawan tidak merasa ditolak. Mereka justru mendapatkan pengalaman baru tentang bagaimana menghormati tempat ibadah dalam budaya Islam.

Hal ini juga penting agar tidak muncul pengalaman kurang menyenangkan yang dapat menjadi perbincangan publik ketika seseorang datang ke masjid hanya untuk melihat dan menikmati keindahan arsitekturnya.

Menurut saya, mengedukasi jauh lebih baik daripada mempermalukan.

Masjid Putra, Ikon Islam Modern Malaysia

Masjid Putra sendiri dikenal sebagai salah satu ikon Putrajaya. Masjid yang berada di tepi Danau Putrajaya tersebut memiliki arsitektur yang sangat khas.

Kemegahannya terlihat dari kubah, menara, gerbang dan ornamen bangunan yang memadukan unsur arsitektur Islam dengan sentuhan modern. Dari arah Jembatan Putra, bangunan masjid bahkan terlihat seolah-olah berdiri di atas permukaan danau.

Menaranya yang menjulang tinggi semakin memperkuat karakter Masjid Putra sebagai salah satu landmark Putrajaya.

Masjid ini bukan hanya menjadi tempat umat Islam melaksanakan ibadah. Keberadaannya juga menjadi bagian dari wajah kota Putrajaya dan daya tarik wisata bagi masyarakat dari berbagai negara.

Pelajaran untuk Sumatera Barat

Bagi saya, kunjungan ke Masjid Putra bukan sekadar perjalanan wisata.

Ada gagasan yang bisa dibawa pulang ke Kota Padang.

Masjid Raya Sumatera Barat memiliki potensi besar sebagai pusat wisata religi dan edukasi Islam. Yang diperlukan bukan sekadar bangunan yang indah, tetapi juga tata kelola kunjungan yang membuat masyarakat dan wisatawan merasa nyaman.

Bisa saja dibuat area khusus bagi wisatawan, petugas informasi, pakaian penutup bagi pengunjung yang membutuhkan, papan informasi multibahasa, serta aturan kunjungan yang jelas.

Dengan demikian, masjid tetap menjadi tempat ibadah yang khusyuk, tetapi pada saat yang sama mampu memperkenalkan nilai-nilai Islam melalui keramahan.

Sebab, terkadang wajah Islam tidak hanya terlihat dari megahnya kubah dan menara.

Wajah Islam juga terlihat dari bagaimana kita menerima tamu.

Itulah pelajaran sederhana yang saya bawa dari Masjid Putra Malaysia: menjaga kesucian masjid tidak harus dengan menutup diri dari dunia luar. Aturan dapat ditegakkan, kehormatan masjid dijaga, dan wisatawan tetap disambut dengan ramah.

BNEWS — Akurat • Terpercaya • Untuk Semua

Berita Terkait

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *