Cuaca Sumatera

Diperbarui 22.25 WIB · Sumber Open-Meteo
Medan
25°
⛅ Berawan
Padang
23°
🌤 Cerah berawan
Pekanbaru
24°
⛅ Berawan
Palembang
24°
⛅ Berawan
Banda Aceh
25°
⛅ Berawan
Batam
26°
⛅ Berawan
Bandar Lampung
25°
🌤 Cerah berawan
Budiman News › Bisnis › Berita
Bisnis

WIT dan ILP 2026 Luluskan 5.000 Guru serta 1.000 Dosen, Dorong Pendidikan Humanis di Tengah Perkembangan Teknologi

JAKARTA, BNEWS — ParagonCorp kembali memperkuat komitmennya dalam mendukung transformasi pendidikan Indonesia di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Sebanyak 6.000 pendidik, terdiri dari 5.000 guru dan 1.000 dosen, dinyatakan lulus dari program Wardah Inspiring Teacher (WIT) dan Inspiring Lecturer Program (ILP) 2026. Keduanya merupakan program CSR pendidikan ParagonCorp yang ditutup melalui agenda Inspiring Educators 2026 di Jakarta Concert Hall, Sabtu (26/9/2026).

Komisaris ParagonCorp Salman Subakat menegaskan, perkembangan AI tidak semestinya membuat pendidik kehilangan peran. Sebaliknya, teknologi justru dapat menjadi alat pendukung agar guru dan dosen semakin fokus membangun kemampuan berpikir, karakter, keberanian, serta daya juang peserta didik.

“AI bisa membantu murid mendapatkan knowledge. Tetapi pendidik membantu murid membangun cara berpikir, karakter, keberanian, dan daya juang. Karena itu, saya justru percaya semakin AI berkembang, peran pendidik bukan semakin kecil, justru semakin penting,” kata Salman.

Di hadapan sekitar 1.000 guru, dosen, dan pegiat pendidikan, Salman juga memperagakan pemanfaatan AI secara langsung. Ia meminta teknologi AI menyusun kurikulum selama enam bulan bagi siswa sekolah dasar di daerah terdampak bencana, lengkap dengan rencana pembelajaran, asesmen, serta materi yang disesuaikan dengan kemampuan peserta didik.

Menurut Salman, kemudahan teknologi tersebut memang dapat memunculkan pertanyaan mengenai relevansi peran guru di masa depan. Namun, ia mengingatkan agar berbagai perubahan tidak membuat pendidik kehilangan kepercayaan diri.

“Jangan sampai perubahan zaman maupun berbagai tantangan membuat seorang pendidik lupa betapa penting dirinya,” ujarnya.

Satu Nilai 10 yang Diingat Selama 30 Tahun

Salman kemudian membagikan pengalaman pribadinya yang menurutnya menggambarkan besarnya pengaruh seorang guru terhadap perjalanan hidup murid.

Hampir 30 tahun lalu, guru Fisika SMA-nya, Yani Bayani, memberikan nilai 10 di rapornya. Bagi Salman, nilai tersebut bukan sekadar angka, melainkan bentuk kepercayaan seorang guru terhadap kemampuan murid.

Kepercayaan itu kemudian mendorongnya untuk semakin percaya diri, mengajari teman-temannya, mengikuti perlombaan mewakili sekolah hingga mendaftar ke Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Yang berkesan itu bukan karena angkanya. Tapi karena di balik angka itu ada sebuah pesan: saya percaya kamu bisa,” kata Salman.

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan salah satu peran pendidik yang tidak mudah digantikan teknologi, yakni mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan dan menjadikan kebijaksanaan sebagai sesuatu yang bermanfaat.

WIT 2026 Bekali Guru dengan AI dan Berpikir Komputasional

Pada angkatan 2026, WIT tidak hanya menekankan pembelajaran berbasis proyek yang berpusat pada murid. Para guru juga mendapatkan pembekalan mengenai berpikir komputasional serta pemanfaatan AI dalam proses pembelajaran.

WIT 2026 tercatat menarik 31.000 pendaftar. Sebanyak 25.000 guru mengikuti program, 10.000 di antaranya menjalankan proyek implementasi di sekolah, dan 5.000 guru dinyatakan lulus.

Sementara itu, di jenjang pendidikan tinggi, ILP 2026 diikuti 5.000 dosen, dengan 1.000 di antaranya dinyatakan lulus. Keseluruhan program berlangsung selama enam bulan.

Mendikdasmen: Mendidik Adalah Menginspirasi dan Memuliakan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Abdul Mu’ti, yang hadir dalam acara tersebut menekankan pentingnya menjadikan proses belajar sebagai ruang untuk menginspirasi dan memuliakan peserta didik.

Menurutnya, tugas guru tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan. Seorang pendidik harus mencintai murid dan ilmu sekaligus mampu menjadi figur yang memberikan inspirasi.

“Kalau Bapak/Ibu ingin menjadi guru, jadilah orang yang cinta murid dan cinta ilmu. Mendidik itu adalah menginspirasi. Menginspirasi tidak harus menggurui.”

Prof. Mu’ti juga mengingatkan bahwa guru merupakan pembelajar yang harus terus bertumbuh bersama peserta didiknya.

“Guru adalah juga pembelajar, sehingga selama dia mengajar, dia juga harus menjadi murid di kelas itu, belajar bersama dengan murid-murid yang lainnya.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa teknologi dapat membantu memperluas akses terhadap pengetahuan, tetapi proses pendidikan tetap membutuhkan keterlibatan manusia untuk membangun rasa ingin tahu, karakter, dan kemampuan menggunakan pengetahuan secara bermakna.

Gita Wirjawan: Guru Penggerak Imajinasi dan Kemungkinan

Pentingnya peran pendidik dalam membangun sumber daya manusia juga disampaikan Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan Republik Indonesia periode 2011–2014.

Menurut Gita, guru memiliki posisi penting dalam menumbuhkan imajinasi, ambisi, dan membuka berbagai kemungkinan bagi generasi muda.

“Saya agak percaya dengan kurikulum sebanyak saya percaya dengan guru. Saya enggak percaya dengan teknologi sebanyak saya percaya dengan guru. Guru tanpa kurikulum, tentunya guru yang brilian, dia bisa menyuntik imajinasi, ambisi, dan keberuntungan cerdas ke seorang murid.”

Pandangan tersebut sejalan dengan komitmen ParagonCorp yang menempatkan pengembangan kualitas manusia sebagai bagian penting dari perjalanan pendidikan Indonesia.

Dari 30 Guru Menjadi Lebih dari 43.000 Pendidik

Program WIT telah memiliki perjalanan panjang. Dimulai pada 2017 di Yogyakarta dengan hanya 30 guru, hingga 2026 program tersebut telah membersamai lebih dari 36.000 guru dari berbagai jenjang pendidikan di Indonesia.

Program kemudian diperluas ke pendidikan tinggi melalui Inspiring Lecturer Program (ILP) yang dimulai pada 2021. Hingga 2026, ILP telah menjangkau lebih dari 7.000 dosen.

Secara keseluruhan, WIT dan ILP telah menjangkau lebih dari 43.000 guru dan dosen di 38 provinsi, serta terhubung dengan lebih dari 10.000 sekolah, universitas, dan institusi pendidikan di Indonesia.

Bagi ParagonCorp, capaian tersebut bukan sekadar angka. Dampak jangka panjang diharapkan muncul ketika para pendidik membawa pengetahuan dan pengalaman dari program ke lingkungan masing-masing, kemudian menularkannya kepada lebih banyak orang.

“Satu pendidik bisa mempengaruhi banyak murid. Dan satu pendidik yang menginspirasi pendidik lain bisa mempengaruhi jauh lebih banyak anak Indonesia,” ujar Salman.

Membangun Ekosistem Pendidik yang Berkelanjutan

Perjalanan WIT dan ILP juga tidak berhenti setelah program berakhir. Para alumni telah terhubung melalui 30 komunitas alumni yang menjadi ruang bertukar pengalaman, berbagi praktik baik, sekaligus mengembangkan berbagai inisiatif di lingkungan masing-masing.

Ekosistem tersebut diperluas melalui jejaring digital yang telah memiliki lebih dari 116.000 pengikut. Jejaring ini menjadi ruang bagi para pendidik dari berbagai daerah untuk tetap terhubung dan berbagi pembelajaran.

Salman menegaskan, pembangunan pendidikan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah, institusi pendidikan, masyarakat, dan dunia usaha.

“Di garis depan, Bapak dan Ibu pendidiklah yang setiap hari berhadapan langsung dengan anak-anak, mendampingi mereka belajar, membangun kepercayaan diri, dan menumbuhkan daya juang.”

Karena itu, ParagonCorp, menurut Salman, berupaya membersamai perjalanan para pendidik dengan memberikan ruang untuk belajar, bertumbuh, bereksperimen, dan saling menginspirasi.

Menjaga Masa Depan untuk Pertiwi

Graduation WIT dan ILP 2026 menjadi penanda satu tahap perjalanan bagi 6.000 pendidik. Namun, proses belajar dan bertumbuh diharapkan terus berlanjut setelah program selesai.

Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat, guru dan dosen tetap memiliki ruang penting dalam mendampingi generasi muda mengenali potensi, membangun karakter, serta mengembangkan kemampuan menghadapi masa depan.

Melalui WIT dan ILP, ParagonCorp terus berupaya membuka ruang bagi pendidik untuk belajar, bertumbuh, bereksperimen, berbagi, dan saling menginspirasi.

Sebab, menjaga masa depan Indonesia dapat dimulai dari para pendidik yang setiap hari mendampingi generasi berikutnya untuk berani bertanya, menemukan potensi, membangun karakter, dan menciptakan kebermanfaatan.

BNEWS — Akurat • Terpercaya • Untuk Semua

Berita Terkait

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *