Budimannews, Aceh — Di tengah duka dan lumpur yang tersisa akibat bencana banjir dan kerusakan infrastruktur di berbagai wilayah Aceh, nama Ferry Irwandi menjadi salah satu sosok yang dikenang masyarakat. Relawan kemanusiaan tersebut meninggalkan jejak mendalam selama masa tanggap darurat di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Tengah, Bener Meriah, hingga Aceh Utara.
Kehadiran Ferry Irwandi di Tanah Rencong tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga menghadirkan harapan bagi warga yang nyaris kehilangan daya juang. Dalam situasi serba terbatas, Ferry bersama timnya menembus wilayah-wilayah terisolasi yang sulit dijangkau, baik melalui jalur darat maupun udara.
Berbagai kisah kemanusiaan menjadi saksi atas dedikasinya. Di Takengon, jembatan yang putus membuat akses antarwilayah terhenti, memaksa warga berjalan jauh untuk bertemu keluarga. Di wilayah pesisir Pulo Seukee, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, seorang ibu dan anak-anaknya terjebak di atap rumah di tengah genangan air, dengan ancaman satwa liar. Kondisi tersebut menggambarkan betapa beratnya situasi yang dihadapi masyarakat saat itu.
Ferry Irwandi turut memanfaatkan jalur udara dengan pesawat ringan jenis Cessna untuk menjangkau daerah-daerah yang terisolasi. Bantuan berupa bahan pangan, kebutuhan darurat, hingga panel surya didistribusikan untuk memastikan warga tetap memiliki penerangan di malam hari. Cahaya dari panel surya tersebut menjadi simbol harapan di desa-desa yang lumpuh akibat bencana.
Namun, di balik dedikasi tersebut, kondisi kesehatan Ferry Irwandi mengalami penurunan. Melalui pesan pamit yang disampaikan kepada publik, ia menyatakan keputusannya untuk menghentikan sementara aktivitas kemanusiaan di Aceh. Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral agar tidak menimbulkan risiko baru dalam upaya penanganan bencana.
Selama menjalankan misi kemanusiaan, Ferry dikenal menjaga kepercayaan publik dengan transparansi pengelolaan donasi yang mencapai belasan miliar rupiah. Setiap bantuan dipastikan tepat sasaran dan digunakan untuk kebutuhan masyarakat terdampak. Sikap ini menuai apresiasi luas dari warga Aceh dan berbagai kalangan.
Bagi masyarakat Aceh, apa yang dilakukan Ferry Irwandi mencerminkan nilai Meuseuraya, semangat gotong royong tanpa pamrih yang telah mengakar dalam budaya lokal. Ia tidak datang membawa kepentingan, melainkan hadir dengan ketulusan untuk membantu sesama.
Kini, meski telah berpamitan, doa dan ucapan terima kasih terus mengalir dari tenda-tenda pengungsian dan desa-desa terdampak. Bagi rakyat Aceh, Ferry Irwandi bukan sekadar relawan, melainkan bagian dari sejarah kemanusiaan yang akan terus dikenang.
Aceh tak lupa. Jejak kemanusiaan itu akan tetap hidup dalam ingatan Tanah Rencong.

