Oleh: Labai Korok
Sejak dahulu, arsitektur merupakan salah satu identitas kuat masyarakat Minangkabau. Pada masa pemerintahan Orde Baru, seorang Gubernur Sumatera Barat bahkan pernah mengeluarkan kebijakan agar bangunan perkantoran menggunakan ornamen rumah gadang, khususnya atap bergonjong. Kebijakan tersebut menjadikan wajah Sumatera Barat memiliki karakter yang khas dan mudah dikenali.
Saat itu, banyak gedung pemerintahan dibangun dengan sentuhan arsitektur Minangkabau. Siapa pun yang pulang ke ranah dari perantauan akan langsung merasakan suasana kampung halaman melalui identitas bangunan yang berdiri megah. Bahkan, dari sisi kekhasan arsitektur, Sumatera Barat pernah dinilai memiliki identitas visual yang sangat kuat.
Karena itu, langkah Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, yang mendorong agar bangunan pemerintah tetap mengusung unsur budaya Minangkabau patut diapresiasi. Salah satunya terlihat saat beliau meninjau proses renovasi GOR Haji Agus Salim Padang.
Dalam kunjungan tersebut, Vasko mengkritisi desain renovasi stadion yang menurutnya belum sepenuhnya mencerminkan identitas budaya Minangkabau. Ia mengusulkan agar pada bagian fasad atau pintu masuk utama ditambahkan ornamen gonjong sebagai ciri khas arsitektur Ranah Minang.
Menurut Vasko, stadion kebanggaan Sumatera Barat tidak cukup hanya tampil modern, tetapi juga harus memiliki karakter lokal yang kuat sehingga mudah dikenali masyarakat luas.
“Kita ingin ketika orang datang, mereka langsung merasakan nuansa Minangkabau,” ujarnya.
Ia juga menilai penggunaan warna marawa dalam desain stadion sudah tepat. Namun, kehadiran gonjong pada bagian depan bangunan akan semakin memperkuat identitas stadion sebagai milik urang Minang.
“Jangan hanya modern, tetapi juga membawa unsur budaya. Kita ingin membangun stadion urang Minang yang memiliki ciri khas dan tidak dimiliki stadion lain,” tegasnya.
Pandangan tersebut layak mendapat dukungan. Pembangunan infrastruktur modern tidak harus menghilangkan jati diri daerah. Justru perpaduan antara kemajuan dan nilai budaya akan menghasilkan bangunan yang berkarakter, bernilai estetika, sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat.
Penulis berharap koreksi dan perhatian yang diberikan Wakil Gubernur Vasko Ruseimy terhadap desain GOR Haji Agus Salim dapat menjadi inspirasi yang lebih luas. Tidak hanya bagi pembangunan fasilitas pemerintah, tetapi juga mendorong masyarakat untuk tetap menghadirkan unsur arsitektur Minangkabau, seperti gonjong, pada rumah maupun bangunan lainnya. Dengan demikian, identitas budaya Minangkabau akan terus terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

