Oleh: Advokat Buya Ki Jal Atri Tanjung Rajo Amat Mudo
Sekretaris Umum MUI Sumatera Barat
BNEWS โ OPINI
Saudaraku seiman,
Indonesia hari ini menghadapi berbagai persoalan yang mengundang kita untuk berhenti sejenak dan melakukan muhasabah. Bencana alam, tekanan ekonomi, kenaikan harga kebutuhan, korupsi, ketimpangan, perpecahan, hingga krisis akhlak di ruang digital menjadi fenomena yang tidak boleh hanya kita lihat sebagai persoalan duniawi semata.
Lantas muncul pertanyaan: apakah semua ini merupakan ujian dari Allah SWT, atau justru peringatan dan azab akibat perbuatan manusia?
Jawabannya tidak boleh kita tetapkan secara serampangan. Hakikat suatu musibah secara pasti adalah urusan Allah SWT. Namun, Al-Qur’an mengajarkan agar setiap peristiwa menjadi momentum untuk melakukan introspeksi.
Allah SWT berfirman:
ุธูููุฑู ุงููููุณูุงุฏู ููู ุงููุจูุฑูู ููุงููุจูุญูุฑู ุจูู ูุง ููุณูุจูุชู ุฃูููุฏูู ุงููููุงุณู
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.”
QS. Ar-Rum: 41
Ayat ini seharusnya mendorong kita untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah kita lakukan terhadap negeri ini, terhadap sesama, dan terhadap amanah yang diberikan Allah SWT?
Ujian Seharusnya Melahirkan Perbaikan
Dalam kehidupan seorang mukmin, ujian bukan selalu pertanda keburukan. Ujian dapat menjadi jalan untuk meningkatkan keimanan, menghapus dosa, sekaligus mengangkat derajat seseorang.
Ada beberapa tanda bahwa sebuah ujian justru melahirkan kebaikan.
Pertama, masih ada orang yang mengingatkan.
Masih ada ulama, ustaz, masjid, majelis ilmu, serta orang-orang yang mengajak kepada kebaikan. Yang lebih penting, masih ada hati yang mau mendengar dan menerima nasihat.
Kedua, tumbuh kesadaran untuk bertaubat.
Ketika musibah datang, manusia kembali mengingat Allah, memperbanyak istighfar, bersedekah, membantu sesama dan memperbaiki hubungan dengan-Nya.
Ketiga, setelah ujian muncul perubahan menuju kebaikan.
Kisah Nabi Ayyub AS menjadi salah satu teladan bahwa ujian yang berat dapat menjadi jalan menuju peningkatan derajat dan kedekatan kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda bahwa sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin; setiap urusannya memiliki kebaikan baginya. (HR. Muslim)
Ketika Kemungkaran Dianggap Biasa
Sebaliknya, kita patut khawatir apabila kemungkaran tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang salah.
Korupsi dianggap biasa. Kezaliman dianggap lumrah. Kebohongan menjadi alat mencapai kepentingan. Nasihat agama dicemooh. Orang yang mengingatkan justru diserang, sementara perilaku buruk mendapatkan pembenaran.
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Bukan berarti setiap bencana boleh langsung disebut sebagai azab Allah. Tetapi setiap musibah seharusnya menjadi peringatan agar manusia kembali kepada Allah dan memperbaiki perilakunya.
Allah SWT berfirman:
ููู ูุง ูููููุง ู ูุนูุฐููุจูููู ุญูุชููููฐ ููุจูุนูุซู ุฑูุณููููุง
“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”
QS. Al-Isra: 15
Karena itu, tugas kita bukan sibuk menghakimi siapa yang sedang diazab, melainkan memperbaiki diri, mengingatkan sesama, dan mencegah kemungkaran dengan cara yang benar.
Ketika Amanah Kepemimpinan Dikhianati
Salah satu persoalan penting yang harus menjadi perhatian adalah amanah kepemimpinan.
Pemimpin memiliki tanggung jawab besar terhadap rakyat. Kekuasaan bukan sekadar jabatan, fasilitas, atau kehormatan. Kekuasaan adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
ููุฅูุฐูุง ุฃูุฑูุฏูููุง ุฃูู ููููููููู ููุฑูููุฉู ุฃูู ูุฑูููุง ู ูุชูุฑููููููุง ููููุณููููุง ูููููุง
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu untuk taat, tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalamnya…”
QS. Al-Isra: 16
Ayat ini semestinya menjadi peringatan bagi siapa pun yang memegang amanah kekuasaan.
Jangan sampai ada pemimpin yang hanya menjilat ke atas dan menindas ke bawah. Jangan pula ada orang yang mengorbankan kepentingan rakyat demi jabatan, proyek, kekuasaan, maupun kepentingan kelompok.
Demikian pula pengkhianatan terhadap amanah tidak hanya berbentuk korupsi uang. Korupsi waktu, penyalahgunaan kekuasaan, manipulasi kewenangan, ketidakjujuran dan pengabaian terhadap kepentingan rakyat juga merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah.
Allah SWT mengingatkan:
ุฅูููู ุงูููููู ููุง ููุญูุจูู ุงููุฎูุงุฆูููููู
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”
QS. Al-Anfal: 58
Rakyat Jangan Hanya Menjadi Penonton
Ketika hukum kehilangan rasa keadilan, ketika rakyat semakin terbebani, ketika korupsi merusak kehidupan bernegara, dan ketika suara kebenaran kalah oleh kepentingan, maka masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton.
Islam mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar, tetapi harus dilakukan dengan ilmu, hikmah, adab dan cara yang benar.
Kita harus berani mengingatkan ketika ada kesalahan, tetapi juga harus berani melakukan introspeksi.
Sebab perubahan tidak akan terjadi jika kita hanya menunjuk kesalahan orang lain.
Allah SWT berfirman:
ุฅูููู ุงูููููู ููุง ููุบููููุฑู ู ูุง ุจูููููู ู ุญูุชููููฐ ููุบููููุฑููุง ู ูุง ุจูุฃููููุณูููู ู
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
QS. Ar-Ra’d: 11
Apa yang Harus Kita Lakukan?
Ada beberapa langkah yang harus menjadi gerakan bersama.
Pertama, memperbanyak taubat.
Taubat bukan hanya untuk orang yang melakukan dosa besar. Taubat adalah kebutuhan setiap manusia.
Kedua, memperkuat amar ma’ruf nahi munkar.
Jangan membiarkan kemungkaran menjadi budaya. Mulailah dari keluarga, lingkungan kerja, masyarakat hingga media sosial.
Ketiga, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Perbanyak salat, zikir, membaca Al-Qur’an, sedekah, doa dan amal kebajikan.
Keempat, memperbaiki amanah.
Pemimpin harus amanah. Aparatur harus amanah. Pengusaha harus amanah. Ulama harus menjaga amanah ilmu. Wartawan harus menjaga amanah informasi. Dan rakyat pun harus menjaga amanahnya masing-masing.
Kelima, jangan menjadikan musibah sebagai alasan untuk saling menghujat.
Bencana dan persoalan bangsa seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, saling membantu dan mencari solusi.
Indonesia: Saatnya Kembali
Saudaraku,
Mungkin kita tidak pernah tahu dengan pasti apakah sebuah musibah merupakan ujian, teguran, atau bentuk hukuman Allah SWT. Namun kita tahu satu hal: setiap musibah harus membuat kita lebih dekat kepada Allah dan lebih baik kepada sesama.
Jangan sampai kita menjadi orang yang diam ketika melihat kemungkaran.
Jangan sampai kita menjadi bagian dari budaya penjilatan.
Jangan sampai kita mengkhianati amanah negeri dengan korupsi uang, korupsi waktu, penyalahgunaan kekuasaan maupun kebohongan.
Indonesia membutuhkan taubat, keteladanan, keadilan, persatuan dan kepemimpinan yang amanah.
Mari kita berdoa:
Allahumma laa tu’akhidznaa bimaa fa’ala sufahaa’u minna.
“Ya Allah, jangan Engkau hukum kami karena perbuatan orang-orang bodoh di antara kami.”
Allahumma aslih ummata Muhammad. Allahumma aslih ummata Muhammad.
“Ya Allah, perbaikilah umat Muhammad.”
Allahumma inni as’alukal huda wat-tuqa wal-‘afaafa wal-ghina.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri dan kecukupan.”
Semoga Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur โ negeri yang baik, yang mendapatkan ampunan dan rahmat Allah SWT.
Mari bertobat. Mari berbenah. Mari menjaga amanah. Mari memperbaiki Indonesia bersama-sama.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.