Cuaca Sumatera

Diperbarui 15.33 WIB · Sumber Open-Meteo
Medan
25°
🌦 Gerimis
Padang
25°
🌦 Gerimis ringan
Pekanbaru
25°
⛅ Berawan
Palembang
25°
🌦 Hujan lokal
Banda Aceh
25°
🌦 Hujan lokal sedang
Batam
26°
⛅ Berawan
Bandar Lampung
25°
⛅ Berawan
Budiman News › Tokoh › Berita
Tokoh

Irman Gusman: Warisan Terbesar Bukan Jabatan, Melainkan Manfaat bagi Sesama

Irman Gusman Hadiri Peluncuran Biografi Abraham Paul Liyanto di Kupang, Soroti Pemerataan Pembangunan dan Makna Pengabdian

KUPANG, NTT — BNEWS | Sabtu, 24 Oktober 2026

Senator Republik Indonesia asal Sumatera Barat, Irman Gusman, menegaskan bahwa warisan terbesar seseorang bukanlah jabatan, kekuasaan, atau pencapaian pribadi, melainkan manfaat nyata yang terus dirasakan masyarakat. Pengabdian yang menghadirkan perubahan bagi kehidupan orang lain, menurutnya, akan tetap bermakna jauh melampaui usia dan masa jabatan.

Pesan tersebut disampaikan Irman Gusman dalam acara peluncuran dan bedah buku biografi Diberkati untuk Memberkati, yang menandai ulang tahun ke-70 sahabatnya, Senator Abraham Paul Liyanto, di Universitas Citra Bangsa (UCB), Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (24/10/2026).

Di hadapan para tokoh, akademisi, dan undangan yang hadir, Irman mengajak masyarakat memaknai keberhasilan bukan sekadar dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari seberapa besar kontribusi yang diberikan untuk sesama.

Dari Keterbatasan Menuju Pengabdian

Irman menilai perjalanan hidup Abraham Paul Liyanto merupakan gambaran tentang ketekunan, perjuangan, dan keberanian mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.

Berasal dari keluarga sederhana di Kuanino pada era 1970-an, Abraham muda harus bekerja keras untuk membiayai kuliah sekaligus memenuhi kebutuhan hidup. Ia pernah berjualan kue, minyak tanah, dan rokok ketengan, memikul drum air, hingga terlibat langsung dalam proyek pembangunan saat masih menjadi mahasiswa.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Abraham hingga dikenal sebagai tokoh yang berkontribusi terhadap pembangunan NTT.

“Perjalanan hidup Abraham mengajarkan kita bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari cita-cita. Yang menentukan adalah kemauan untuk terus berjuang, membangun diri, dan menggunakan keberhasilan itu untuk membantu orang lain,” ujar Irman, yang pernah menjabat Ketua DPD RI periode 2009–2016.

Menurutnya, kisah tersebut relevan bagi generasi muda yang tengah membangun masa depan. Kesulitan hidup semestinya menjadi pemacu untuk terus berkembang, bukan alasan untuk menyerah pada keadaan.

Pembangunan Harus Berkeadilan, Tidak Boleh Ada Daerah yang Tertinggal

Selain mengangkat nilai perjuangan personal, Irman juga menyoroti pentingnya pemerataan pembangunan dan keadilan antarwilayah di Indonesia.

Ia mengingatkan bahwa kemajuan nasional tidak boleh hanya terkonsentrasi di daerah tertentu, sementara wilayah lainnya masih menghadapi keterbatasan akses terhadap kesempatan ekonomi, pendidikan, dan pelayanan dasar.

“Pembangunan tidak boleh menganakemaskan satu daerah dan menganaktirikan daerah lain. Setiap wilayah berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk maju,” tegasnya.

Prinsip tersebut, lanjut Irman, menjadi salah satu landasan ketika dirinya memimpin DPD RI. Pada periode 2009–2016, pembangunan kantor perwakilan DPD RI di tiga wilayah Indonesia menjadi bagian dari upaya memperkuat representasi daerah.

Kupang dipilih untuk mewakili kawasan timur Indonesia. Perjuangan Abraham Liyanto turut menjadi bagian dari proses tersebut, dengan peletakan batu pertama pembangunan kantor perwakilan itu dilaksanakan pada 15 Juni 2011.

Bagi Irman, kehadiran institusi negara di daerah bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan simbol komitmen untuk mendekatkan pelayanan dan memperkuat aspirasi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Persahabatan yang Bertumbuh dalam Pengabdian

Hubungan Irman Gusman dan Abraham Paul Liyanto telah terjalin sejak keduanya berkecimpung di dunia usaha melalui Kamar Dagang dan Industri (Kadin), sebelum kemudian bersama-sama berkiprah di Senayan.

Dari perjalanan tersebut, Irman melihat Abraham sebagai sosok entrepreneurial senator, yakni figur senator berlatar belakang kewirausahaan yang mampu menghubungkan gagasan, pengalaman bisnis, dan perjuangan politik untuk mendorong kemajuan daerah.

Pengalaman Abraham, menurutnya, menunjukkan bahwa pengabdian dapat diwujudkan melalui berbagai jalur. Dunia usaha, politik, pendidikan, dan pelayanan masyarakat dapat menjadi sarana untuk menciptakan perubahan apabila dijalankan dengan orientasi kepentingan publik.

Warisan yang Melampaui Usia

Dalam sambutannya, Irman menekankan bahwa warisan paling berharga tidak selalu berupa gedung, kekayaan, atau benda yang dapat dilihat secara fisik. Warisan sejati adalah perubahan kehidupan yang manfaatnya terus dirasakan oleh generasi berikutnya.

“Gedung akan menua, jabatan akan berakhir. Tapi seorang anak NTT yang mendapat pendidikan, seorang pemuda yang memperoleh keterampilan dan pekerjaan, serta keluarga yang tertolong karena pelayanan kesehatan. Itulah warisan yang manfaatnya dapat melampaui usia kita,” ujarnya.

Pesan tersebut selaras dengan judul buku Diberkati untuk Memberkati. Menurut Irman, keberhasilan semestinya tidak berhenti pada kepentingan pribadi, tetapi diteruskan menjadi kesempatan, pengetahuan, dan harapan bagi orang lain.

Seseorang dinilai berhasil bukan hanya karena apa yang telah dicapainya, melainkan juga karena seberapa banyak orang yang memperoleh manfaat dari perjalanan hidup dan pengabdiannya.

Pesan untuk Generasi Muda NTT

Irman turut mengajak generasi muda NTT, khususnya mahasiswa Universitas Citra Bangsa, agar berani bermimpi besar, tekun belajar, dan tidak menjadikan keterbatasan sebagai penghalang untuk meraih masa depan.

Ia berharap kisah hidup Abraham Paul Liyanto dapat menjadi inspirasi bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk tumbuh, berkarya, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.

“Selamat ulang tahun ke-70 buat sahabat saya, Bapak Abraham Paul Liyanto. Teruslah menjadi berkat bagi NTT dan bagi Indonesia,” tutup Irman.

Acara peluncuran dan bedah buku biografi tersebut turut dihadiri mantan Gubernur NTT ke-5 Herman Musakabe, anggota Komisi II DPR RI dari Partai Gerindra Esthon Foenay, mantan anggota DPR RI Charles J. Mesang, Rektor UCB Frans Salesman, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), sejumlah anggota DPRD NTT, serta undangan lainnya.

Melalui momentum peringatan usia ke-70 Abraham Paul Liyanto, pesan yang mengemuka bukan sekadar perayaan perjalanan hidup seorang tokoh, melainkan refleksi tentang arti keberhasilan, keadilan pembangunan, dan tanggung jawab untuk mewariskan manfaat bagi sesama.

BNEWS — Akurat, Terpercaya, untuk Semua.

Berita Terkait

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *