Bisakah Sholat Mencegah Perbuatan Keji Dan Mungkar?

Oleh: Dr. H. Budiman Dt. Malano Garang, S.Ag

A. Pendahuluan

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Ayat ini menegaskan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi memiliki fungsi moral dan spiritual yang sangat besar dalam kehidupan seorang muslim.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Shalat adalah tiang agama. Barang siapa mendirikannya, maka ia telah menegakkan agama; dan barang siapa meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan agama.”
(HR. Al-Hadits)

Dengan demikian, shalat bukan hanya ibadah formal, tetapi fondasi utama yang menjaga keimanan dan perilaku seorang hamba.


B. Pengertian Keji dan Mungkar

Untuk memahami makna ayat tersebut, perlu dijelaskan arti dari kata keji dan mungkar.

Keji (فحشاء / fahsya’) adalah segala bentuk perbuatan dosa besar yang buruk secara moral, terutama yang berkaitan dengan pelanggaran kehormatan dan akhlak, seperti zina dan berbagai bentuk penyimpangan moral lainnya.

Mungkar (منكر / munkar) adalah segala sesuatu yang diingkari oleh syariat dan akal sehat, baik dosa besar maupun kecil, termasuk kejahatan sosial seperti mencuri, merampok, membunuh, penyalahgunaan minuman keras, narkoba, dan berbagai bentuk kemaksiatan lainnya.

Dengan demikian, keji dan mungkar mencakup seluruh bentuk pelanggaran terhadap nilai agama dan norma kemanusiaan.


C. Bagaimana Sholat Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar?

Para ulama menjelaskan beberapa hikmah mengapa shalat dapat mencegah kemungkaran:

1. Shalat Menghubungkan Hati dengan Allah

Ketika seseorang berdiri, rukuk, dan sujud dengan khusyuk, ia sedang bermunajat kepada Allah SWT. Hubungan spiritual ini menumbuhkan rasa diawasi (muraqabah), sehingga muncul rasa malu dan takut untuk melakukan dosa.

2. Shalat Mengingatkan Secara Rutin

Shalat lima waktu menghadirkan pengingat minimal lima kali sehari semalam. Ia menjadi “rem spiritual” yang mengendalikan hawa nafsu.

Dalam setiap rakaat, seorang muslim membaca doa:

“Ihdinash shirathal mustaqim”
(Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus).

Doa ini dipanjatkan minimal 17 kali sehari dalam shalat wajib, belum termasuk shalat sunnah. Permohonan yang terus diulang ini adalah bentuk komitmen untuk tetap berada di jalan yang diridhai Allah dan menjauhi jalan kesesatan.

3. Shalat Membersihkan Dosa

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bagaimana pendapat kalian jika di depan pintu salah seorang dari kalian ada sungai, ia mandi di dalamnya lima kali sehari, apakah tersisa kotorannya sedikit pun?”
Para sahabat menjawab: Tidak tersisa sedikit pun.
Beliau bersabda: “Itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus dosa-dosa dengannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Shalat menjadi sarana pembersih dosa. Dalam rukuk dan sujud, seorang hamba berulang kali memohon ampun kepada Allah SWT. Jika dihitung, dalam shalat wajib saja seorang muslim dapat beristighfar puluhan kali dalam sehari semalam.

Kesadaran akan ampunan dan pengawasan Allah inilah yang menumbuhkan rasa malu untuk kembali melakukan perbuatan keji dan mungkar.


D. Mengapa Ada Orang Shalat Tetapi Masih Berbuat Maksiat?

Pertanyaan ini sering muncul: mengapa ada orang yang shalat, tetapi masih melakukan kemungkaran?

Para ulama menjelaskan beberapa kemungkinan:

  1. Shalatnya belum khusyuk.
  2. Gerakannya benar, tetapi hati dan pikirannya tidak hadir.
  3. Shalat dilakukan tanpa pemahaman terhadap makna bacaan dan gerakan.
  4. Nilai-nilai shalat belum dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa shalat yang benar, yang dilakukan dengan khusyuk dan penuh kesadaran, itulah yang benar-benar mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Artinya, bukan sekadar gerakan fisik yang menjadi inti, tetapi kualitas ruhiyah dan penghayatan di dalamnya.


E. Penutup

Shalat adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat. Ia bukan hanya kewajiban, tetapi sarana pembinaan akhlak dan penjaga moral manusia.

Jika dipahami, dihayati, dan diamalkan dengan sungguh-sungguh, shalat akan melahirkan ketenangan, kebahagiaan, dan kehidupan yang terarah di dunia.

Di akhirat, Allah SWT menjanjikan balasan berupa surga Firdaus yang penuh kenikmatan bagi orang-orang yang menjaga shalatnya (QS. Al-Mu’minun).

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang tidak hanya mendirikan shalat, tetapi juga menghadirkan ruh dan nilai-nilainya dalam setiap langkah kehidupan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *