Cuaca Sumatera

Diperbarui 10.04 WIB · Sumber Open-Meteo
Medan
27°
⛈ Badai petir
Padang
27°
🌦 Gerimis ringan
Pekanbaru
27°
🌦 Gerimis ringan
Palembang
33°
🌤 Berawan sebagian
Banda Aceh
31°
⛅ Berawan
Batam
28°
🌤 Cerah berawan
Bandar Lampung
28°
⛅ Berawan
Budiman NewsSosialBerita
Sosial

Reaktualisasi ABS-SBK, Mengokohkan Peran Ulama Menuju Bukittinggi Gemilang

Refleksi Musyawarah Daerah MUI Ke-XI Kota Bukittinggi Tahun 2026

Oleh: Advokat Buya Ki Jal Atri Tanjung Rajo Amat Mudo
Sekretaris Umum Dewan Pimpinan MUI Sumatera Barat

BUKITTINGGI, BNEWS — Musyawarah Daerah (Musda) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ke-XI Kota Bukittinggi Tahun 2026 bukan sekadar agenda rutin organisasi. Musda ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali peran ulama dalam kehidupan masyarakat sekaligus mereaktualisasi nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK) di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.

Dengan tema “Menguatkan Peran Ulama, Meneguhkan Persatuan dan Mewujudkan Kemaslahatan Umat Menuju Kota Bukittinggi yang Gemilang”, Musda MUI Kota Bukittinggi membawa pesan bahwa pembangunan kota tidak cukup hanya diukur dari kemajuan infrastruktur, pariwisata dan pertumbuhan ekonomi. Kemajuan juga harus tercermin dari kualitas akhlak, persatuan dan ketahanan moral masyarakat.

Musda XI MUI Kota Bukittinggi memiliki arti tersendiri karena menjadi salah satu momentum awal konsolidasi MUI kabupaten dan kota di Sumatera Barat pada 2026. Hal ini memperlihatkan pentingnya penguatan organisasi keulamaan di tingkat daerah dalam menjawab berbagai persoalan umat.

Bukittinggi Gemilang Harus Beriringan dengan Penguatan Adab

Cita-cita mewujudkan Bukittinggi sebagai kota yang gemilang tidak semata-mata berbicara tentang gedung, jalan, destinasi wisata ataupun aktivitas ekonomi. Lebih jauh dari itu, kemajuan harus dibarengi dengan masyarakat yang beriman, beradat dan bermartabat.

Allah SWT berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”
(QS. Al-A’raf: 96)

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan material perlu berjalan bersama pembangunan spiritual.

Dalam konteks inilah hubungan ulama dan umara menjadi penting. Ulama memberikan arah moral dan spiritual, sementara pemerintah menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam kebijakan dan pelayanan publik.

Tiga Peran Strategis Ulama

Reaktualisasi ABS-SBK tidak boleh berhenti sebagai slogan. Nilai tersebut harus hadir dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari solusi terhadap persoalan masyarakat.

Pertama, ulama sebagai Himayatul Ummah atau pelindung umat.

Ulama memiliki tanggung jawab moral untuk membimbing masyarakat menghadapi berbagai tantangan zaman, mulai dari penyalahgunaan narkoba, perjudian daring, pergaulan bebas, krisis keluarga hingga berbagai persoalan sosial lainnya.

Surau dan masjid perlu terus diperkuat sebagai ruang pembinaan masyarakat, khususnya generasi muda. Gagasan “Satu Kelurahan, Satu Surau Produktif” dapat menjadi salah satu bentuk penguatan fungsi surau sebagai pusat ibadah, pendidikan, pembinaan karakter dan kegiatan sosial.

Kedua, ulama sebagai Ishlahul Ummah atau pendamai umat.

Di tengah masyarakat yang semakin beragam, ulama memiliki peran penting dalam merawat persatuan. Ulama harus mampu menjadi jembatan ketika terjadi perbedaan serta mengedepankan dialog dan musyawarah.

Falsafah Minangkabau mengajarkan:

“Bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mufakat.”

Semangat musyawarah tersebut sejalan dengan upaya menjaga persatuan dan menghindari perpecahan di tengah masyarakat.

Ketiga, ulama sebagai Qudwatul Ummah atau teladan umat.

Keteladanan merupakan salah satu kekuatan utama dakwah. Masyarakat tidak hanya membutuhkan nasihat, tetapi juga contoh nyata.

Karena itu, ulama diharapkan tidak berjarak dengan persoalan masyarakat. Ulama perlu hadir di masjid, surau, pasar, sekolah, lembaga sosial, panti asuhan, hingga ruang-ruang yang menjadi tempat generasi muda berinteraksi.

Ketika ulama memberikan keteladanan, dakwah akan memiliki kekuatan yang lebih besar dalam membentuk karakter masyarakat.

Sinergi MUI dan Pemerintah Daerah

Salah satu hal yang penting dalam penguatan peran ulama adalah membangun hubungan yang konstruktif antara MUI dan pemerintah daerah.

Sinergi antara MUI Kota Bukittinggi dan Pemerintah Kota Bukittinggi dapat menjadi bagian penting dalam menjalankan berbagai program keumatan. Dukungan pemerintah daerah terhadap kegiatan pembinaan umat, dakwah, pembinaan mualaf, peningkatan kapasitas dai, penguatan ekonomi syariah serta pembinaan generasi muda perlu diarahkan secara transparan, akuntabel dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.

Prinsipnya adalah ulama memberikan penguatan nilai dan arah moral, sementara pemerintah menghadirkan kebijakan dan dukungan program sesuai kewenangannya.

Kolaborasi seperti ini penting untuk terus dikembangkan, tentunya dengan tetap menjaga independensi dan peran masing-masing lembaga.

ABS-SBK Harus Hidup dalam Kehidupan Masyarakat

ABS-SBK tidak seharusnya hanya menjadi tulisan pada papan nama, slogan dalam berbagai kegiatan atau simbol identitas daerah.

ABS-SBK harus hadir dalam perilaku masyarakat, pendidikan keluarga, kehidupan generasi muda, aktivitas ekonomi, kehidupan sosial serta kebijakan yang menyentuh kepentingan masyarakat.

Karena itu, Musda XI MUI Kota Bukittinggi hendaknya tidak berhenti pada pergantian kepengurusan atau penyusunan program organisasi. Lebih dari itu, Musda harus menjadi momentum melahirkan langkah konkret untuk memperkuat peran ulama dalam menjawab persoalan umat.

Dari Bukittinggi untuk Sumatera Barat

Bukittinggi memiliki sejarah panjang sebagai kota yang dekat dengan tradisi keilmuan, keulamaan, adat dan perjuangan. Identitas tersebut merupakan modal sosial yang perlu terus dirawat.

Kota yang gemilang bukan hanya kota yang maju secara ekonomi dan menjadi tujuan wisata, tetapi juga kota yang masyarakatnya memiliki karakter, menjunjung adat, memahami nilai agama dan mampu hidup dalam persatuan.

Musda XI MUI Kota Bukittinggi 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kembali semangat tersebut.

Dari Bukittinggi untuk Sumatera Barat. Dari ABS-SBK untuk Indonesia.

Semoga sinergi ulama, umara dan seluruh elemen masyarakat mampu menghadirkan kemaslahatan yang nyata bagi umat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

BNEWS — Akurat • Terpercaya • Untuk Semua

Berita Terkait

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *