PEMIMPIN DAKAR “NASEHAT ORANG GILA”

Oleh : Advokat Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H.

Pemimpin Wajib Mendengarkan Nasehat.

Islam sangat menegaskan pentingnya memanfaatkan waktu untuk berbakti dalam pengabdian agar manusia tidak termasuk dalam kerugian. QS. Al-Asr menegaskan, bahwa demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan atau amal sholeh serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.

Tulisan ini mempertegas pentingnya nasehat untuk kebenaran dan kesabaran, agar pemimpin maupun rakyat tidak berada dalam suasana kerugian, baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara. Nasehat rakyat kepada pemimpinnya agar istiqomah dalam kebenaran dan kesabaran merupakan wujud kecintaan rakyatnya kepada pemimpinnya, bukan merupakan upaya untuk mendongkel dan menjatuhkan kekuasaannya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau mendengarkan suara, jeritan hati rakyat, nasehat, saran dan pendapat dari rakyat yang dipimpinnya dan bukan hanya sekedar mendengarkan kata-kata atau laporan dari bawahannya saja yang cenderung asal bapak senang.

Menghindari Pemimpin Dakar.

Pemimpin Dakar dapat disebut pemimpin gila-gilaan, degil dan kepala batu. Orang tua-tua mengatakan, “pemimpin dakar sifatnya ingkar”. Tanda-tanda pemimpin dakar :

. Hatinya busuk kelakuan gila-gilaan
. Janji tak ingat sumpah dilanggar
. Petuah amanah tidak didengar
. Beban tak lepas tugas terlantar
. Dijadikan pemimpin celakanya besar
. Dijadikan Ketua pasti bertengkar
. Dijadikan tiang kepalanya besar
. Memimpin rakyat tidak akan benar.

Nasehat Orang Gila Kepada Pemimpin.

Dialog orang gila kepada Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Orang gila disini diinterpretasikan sebagai seorang sufi atau wali yang berpura-pura menjadi orang gila ketika menemui Khalifah Harun Ar-Rasyid. Cerita yang penuh hikmah ini sangat populer dalam literatur Islam, terutama dalam kitab “Nashaihul ‘Ibad” Karya Imam Nawawi al-Bantani dan juga dalam berbagai kitab akhlak/tasawuf.

Dialog nasehat-nasehat yang diberikan, seperti yang diriwayatkan dalam berbagai hikayat :

Adegan : Di istana kekhalifahan, seorang lelaki yang dianggap gila masuk menghadap Khalifah Harun Ar-Rasyid yang sedang duduk di majelisnya.

Khalifah Harun : Siapa kamu dan apa keperluanmu ?

Lelaki yang digambarkan sebagai orang gila : Aku adalah seorang dari rakyatmu, kebutuhanku adalah menasehati jika engkau mau menerimanya.

Khalifah Harun : Majulah, katakan nasehatmu. Sesungguhnya nasehat adalah hak yang harus didengar oleh Khalifah.

Lelaki itu : Dengarlah wahai Harun :

  1. Berbuat adillah wahai harun ! Karena kezaliman akan menghancurkan negeri dan membuat manusia merasakan siksaan. Tidak halal bagimu mengangkat pedang kecuali dengan kebenaran.
  2. Ingatlah bahwa engkau adalah pemegang amanah, bukan pemilik ! Kekhalifahan ini adalah amanah di pundakmu, engkau akan dimintai pertanggungjawaban atasnya di hari kiamat. Jangan terperdaya oleh pasukan dan pembantu yang engkau lihat.
  3. Hati-hatilah dengan kesombongan dan tertipu oleh dunia ! Jangan sampai istana-istana membuatmu melampaui batas dan jangan sampai pakaian sutera menipumu. Sesungguhnya engkau hanyalah seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Engkau akan pergi dari dunia ini seperti orang paling fakir.
  4. Berbekallah untuk akhirat ! Dimana bekalmu untuk hari pertemuan dengan Tuhanmu ? Dimana amal sholehmu ? Jangan sampai sibuk dengan kemegahan kekuasaan, sehingga melalaikan hakikat ibadah.
  5. Bertaqwalah kepada Allah dalam memperlakukan rakyat ! Karena setiap orang yang kelaparan di wilayahmu dan setiap orang yang terzalimi yang tidak kau tolong, adalah saksi yang akan memberatkanmu di sisi Allah pada hari kiamat. Engkau adalah penggembala dan bertanggungjawab atas rakyatmu.
  6. Hendaknya tujuan utamamu adalah akhirat sebelum dunia. Kerajaanmu akan sirna dan umurmu akan habis, yang kekal hanyalah apa yang telah kau persembahkan untuk dirimu (amal sholeh).

Kemudian lelaki itu memandang Khalifah Harun Ar-Rasyid dengan pandangan yang dalam :
Inilah nasehatku. Jika engkau menerimanya, engkau termasuk orang-orang yang beruntung dan jika engkau menolaknya, maka sesungguhnya engkau telah menghancurkan dirimu dengan tanganmu sendiri. Semoga keselamatan atasmu wahai Amirul Mukminin.

(Lelaki itu keluar, meninggalkan Khalifah dalam keadaan kontemplasi dan hening).

Kisah ini lebih bersifat hikayat dan pelajaran moral daripada catatan sejarah yang persis. Namun, nilai-nilainya sangat sejalan dengan ajaran IsIam tentang pentingnya nasehat bagi pemimpin dalam kepemimpinannya.

Karakter Harun Ar-Rasyid dalam sejarah memang kompleks, di satu sisi dikenal sebagai Khalifah yang menjunjung tinggi ilmu dan keadilan (masa keemasan Abbasiyah), namun disisi lain juga ada catatan tentang gaya hidup mewah di istana.

Kesimpulan.

Makna dan pelajaran yang bisa diimplementasikan, antara lain sebagai berikut :

1). ” Kegilaan ” sebagai metafora : sering kali dalam tradisi sufi, orang yang dianggap “gila” oleh masyarakat justru adalah orang yang memiliki mata hati yang tajam dan berani menyuarakan kebenaran dihadapkan penguasa.

2) Kearifan Penguasa : Kisah ini juga memuji sifat Harun Ar-Rasyid yang rendah hati dan mau mendengarkan nasehat, bahkan dari orang yang dipandang rendah oleh masyarakat.

3) Kritik sosial yang tajam : Nasehat-nasehat ini merupakan bentuk kritik halus namun mendalam terhadap bahaya penyalahgunaan kekuasaan, korupsi dan kehilangan spiritualitas para pemimpin. Intinya adalah seruan untuk kembali kepada esensi kepemimpinan yang penuh tanggungjawab, adil dan mengingat akhirat serta menerima nasehat dari rakyat. Salam.
Taman Mutiara Hikmah.
Advokat Ki Jal Atri Tanjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *