Oleh: Labai Korok
Di tengah ribuan warga Kota Padang yang masih bergulat dengan dampak banjir, suasana peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-357 Kota Padang justru berlangsung meriah dengan berbagai agenda seremonial yang dihadiri jajaran pemerintah daerah, anggota DPRD, serta sejumlah pejabat dan tamu undangan.
Kontras kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai sensitivitas pemerintah terhadap penderitaan masyarakat. Ketika sebagian warga masih berjuang menyelamatkan keluarga, membersihkan rumah, dan memulihkan kehidupan pascabanjir, pemerintah dinilai tetap menggelar perayaan yang terkesan mewah di tengah situasi duka.
Idealnya, dalam kondisi bencana, pemerintah menunjukkan empati dengan menyederhanakan rangkaian peringatan HUT atau mengalihkan sebagian anggaran dan perhatian kepada penanganan korban banjir. Langkah tersebut tidak hanya mencerminkan kepedulian, tetapi juga menjadi simbol bahwa pemerintah hadir bersama masyarakat pada saat mereka menghadapi kesulitan.
Terlebih, pemerintah pusat terus mengingatkan seluruh pemerintah daerah agar melakukan efisiensi anggaran dengan mengurangi kegiatan seremonial serta memprioritaskan program yang berdampak langsung bagi masyarakat. Dalam situasi ekonomi yang masih menantang dan bencana yang belum sepenuhnya tertangani, pesan tersebut menjadi semakin relevan.
Berdasarkan data yang telah dipublikasikan, banjir yang melanda Kota Padang mengakibatkan 1.488 kepala keluarga (KK) terdampak, sementara 1.377 jiwa harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman akibat genangan yang merendam permukiman.
Peristiwa banjir terjadi setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur Kota Padang pada Senin (3/8) sejak pukul 11.00 hingga 17.00 WIB. BPBD Kota Padang mencatat sedikitnya tiga kecamatan terdampak, yaitu Kuranji, Koto Tangah, dan Bungus Teluk Kabung, dengan sejumlah kelurahan serta kawasan permukiman dan ruas jalan terendam air.
Tulisan ini merupakan pandangan yang mendorong pemerintah daerah agar lebih mengedepankan empati, kepekaan sosial, dan keberpihakan kepada masyarakat yang sedang menghadapi musibah. Dalam situasi bencana, kehadiran pemimpin di tengah rakyat sering kali lebih bermakna daripada kemeriahan sebuah seremoni.
Opini ini merupakan tanggung jawab penulis.

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.