R.A. Kartini Pribadi Sejati dan Teladan Mandiri.

Oleh : Advokat Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H. | budimannews.com

Bukan Sekedar Emansipasi Perempuan.

R.A. Kartini sering di sorot mengenai pribadi sejati, teladan dalam mandiri dan soal otonomi berpikir serta bertindak di zaman yang serba pengekangan, jadi bukan hanya sekedar “emansipasi perempuan”.

Konteks Mandiri di Era R.A. Kartini (1879 – 1904).

Di Jawa feodal, perempuan bangsawan hanya punya 3 pilihan hidup :

  1. Dipingit sejak usia 12 tahun sampai dilamar menjadi isteri.
  2. Dipoligami jadi isteri ke 2, ke 3 dan ke 4 Bupati.
  3. Diam menurut keputusan ayah dan adat.
    R.A. Kartini menolak ketiganya semaksimal mungkin dan inilah bentuk “mandiri pertama”.

Dari aspek berpikir mandiri dan tindakan R.A. Kartini.

R.A Kartini belajar sendiri di kamar pakai buku Belanda kiriman dari ayahnya. Dia pakai nalar membongkar status quo tanpa guru. Sikap menolak dinikahkan pada usia 12 tahun, menegosiasi ke ayah “boleh menikah asal tetap dibolehkan membuka sekolah. Akhirnya R.A. Kartini menikah di usia 24 tahun, merupakan umur yang cukup tua menikah di zamannya.

Aksi membuka sekolah perempuan di teras pendopo tahun 1903, modal sendiri dan guru dia sendiri. Mengajar membaca, menulis, menjahit dan memasak agar perempuan punya ketrampilan (skill) sehingga bisa mandiri cari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

R.A. Kartini perempuan visioner, mengirim surat ke Nyonya Abendanon tahun 1902 : “Saya ingin berdiri sendiri, tidak tergantung pada suami dan ingin perempuan Jawa punya kaki sendiri” yang mandiri secara finansial dan intelektual, bukan cuma “boleh sekolah”.

“Pribadi Sejati” Versi R.A. Kartini.

Dari surat-suratnya R.A. Kartini memberikan pengertian mengenai “pribadi sejati” dalam 3 hal :

  1. Tahu maunya apa : Dia menulis, “Lebih baik mati daripada hidup tanpa cita-cita”. Dia tahu mau mengangkat derajat perempuan lewat pendidikan.
  2. Berani bayar harga. Dikucilkan kerabat, dituduh “kebarat-baratan, dipingit 4 tahun, dia tetap menulis dan mengajar diam-diam (strategi tapa menang).
  3. Tidak ikut arus. Waktu semua bangsawan sibuk kawin politik, dia sibuk memikirkan bagaimana anak gundik bisa sekolah.

Kunci Kemandirian R.A. Kartini.

  1. Soal pikiran merdeka. “Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia kalau saja perempuan di didik baik-baik” . Surat ke Stella tahun 1899. Dia tidak minta belas kasihan, dia memberikan argumentasi, bahwa negara rugi kalau 50 % penduduknya bodoh.
  2. Tidak mau menjadi beban. “Saya harus, harus, harus mempunyai pekerjaan, supaya saya jangan bergantung pada siapapun”. Surat ke Nyonya Abendanon tahun 1901, ini cikal-bakal ide “perempuan mandiri financial” di Indonesia.
  3. Melawan Takdir. “Adat dapat kami lawan hanya dengan mengubah diri kami sendiri”–Habis Gelap Terbitlah Terang. Mandiri, di mulai dari diri sendiri, bukan menunggu adat berubah dan ini merupakan inovasi.

Batas Kemandirian Perempuan.

Kartini menyadari bahwa dia tidak 100 % bebas, dia tetap melaksanakan kodratnya sebagai perempuan :

  1. Menikah poligami sama Bupati Rembang yang sudah mempunyai 3 isteri.
  2. Pakai privilese bangsawan. Bisa surat-suratan karena R.A. Kartini anak Bupati, kalau perempuan rakyat biasa tidak bisa.
  3. Meninggal dunia di usia muda 25 tahun. Cita-cita sekolah tinggi ke Belanda gagal karena wafat di usia muda setelah melahirkan.

Kesimpulan

Jadi “mandiri” versi R.A. Kartini adalah merebut otonomi maksimal dalam batasan lingkaran, bukan bebas total tetapi tidak boleh pasrah. Perempuan sejati tetap menjaga kodratnya, namun berusaha dalam kemandirian menjaga marwah, harkat dan martabat sebagai perempuan sejati dan mandiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *