TUMBUH DAN BERKEMBANG DI ALAM KEMAJUAN UNTUK MENYELAMATKAN INDONESIA DARI KEHANCURAN

Refleksi HUT Ke-104 Perguruan Tamansiswa

Oleh: Advokat Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H.


Pendahuluan: Makna “Alam Kemajuan” Ki Hadjar

Ki Hadjar Dewantara mewariskan semboyan yang sangat relevan hingga hari ini, yakni Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Bagi beliau, pendidikan merupakan “alam kemerdekaan”, tempat setiap anak tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya.

Memasuki usia ke-104 tahun, Perguruan Tamansiswa ditantang untuk kembali menjadi “alam kemajuan”, yaitu ruang yang menumbuhkan nalar, budi pekerti, dan keberanian bertindak, bukan sekadar mengejar angka dan prestasi formal.


1. Tumbuh: Memerdekakan Manusia, Bukan Menyeragamkan

a. Asas Tri Pusat Pendidikan

Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus berjalan seirama dalam mendidik anak. Sejak awal berdirinya, Tamansiswa menolak sistem pendidikan yang mencabut anak dari akar budaya dan lingkungan sosialnya.

b. Kodrat Alam dan Kodrat Zaman

Anak dididik agar merdeka dalam berpikir, tetapi tetap berpijak pada budaya bangsa. Inilah vaksin terhadap dekadensi moral, yakni melahirkan generasi yang memiliki jati diri dan tidak kehilangan nilai-nilai kebangsaan.


2. Berkembang: Kemajuan Tanpa Kehilangan Jiwa

a. Memimpin dengan Teladan (Ing Ngarsa Sung Tulada)

Guru, pendidik, dan perguruan tinggi harus menjadi contoh integritas di tengah krisis kepercayaan publik.

b. Membangkitkan Daya Karsa (Ing Madya Mangun Karsa)

Kampus dan lembaga pendidikan Tamansiswa harus menjadi laboratorium solusi melalui riset, kewirausahaan sosial, dan pengabdian masyarakat untuk menjawab persoalan kemiskinan, kebodohan, serta kerusakan lingkungan.

c. Mendorong dari Belakang (Tut Wuri Handayani)

Mendidik berarti memberi ruang tumbuh, bukan memaksa. Dari proses inilah lahir kader-kader yang mandiri, kreatif, dan berani mengambil peran bagi bangsa.


3. Menyelamatkan Indonesia dari Kehancuran

Kehancuran sebuah bangsa tidak selalu datang melalui peperangan. Kehancuran juga dapat terjadi melalui:

  1. Kehancuran budi pekerti, seperti korupsi, intoleransi, dan hedonisme.
  2. Kehancuran nalar, berupa maraknya hoaks, anti-intelektualisme, dan rendahnya budaya berpikir kritis.
  3. Kehancuran peradaban, ketika masyarakat merasa paling benar dan kehilangan jejaring kebangsaan dengan daerah lain.

Tamansiswa hadir untuk melawan berbagai ancaman tersebut. Melalui pendidikan yang merdeka dan berbudaya, Tamansiswa berupaya mencetak manusia yang berbudi pekerti luhur, berakal budi, dan berkepribadian Indonesia.


Penutup: Tugas di Usia 104 Tahun

Usia 104 tahun bukanlah momentum untuk berpuas diri, melainkan saat untuk menagih janji dan memperkuat pengabdian.

Tugas Tamansiswa hari ini adalah:

  1. Menjadi rumah kemajuan yang aman bagi lahirnya ide-ide besar anak bangsa.
  2. Menjadi benteng budi pekerti ketika arus globalisasi menggerus nilai-nilai luhur bangsa.
  3. Menjadi simpul persatuan yang menghubungkan keluarga besar Tamansiswa dari Sabang sampai Merauke.

Jika setiap keluarga besar Tamansiswa menanamkan tiga nilai utama, yaitu merdeka, berbudaya, dan berguna bagi sesama, maka Indonesia akan selamat dari berbagai bentuk kehancuran.

Sebab, bangsa yang selamat adalah bangsa yang anak-anaknya dididik dengan benar.

Dirgahayu Ke-104 Perguruan Tamansiswa

“Tut Wuri Handayani” untuk Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *