Opini: Labai Korok
PADANG – Ancaman gempa bumi dan tsunami di pesisir barat Sumatera bukan sekadar prediksi, melainkan risiko nyata yang harus diantisipasi melalui perencanaan pembangunan yang berorientasi pada keselamatan masyarakat.
Pengalaman bencana tsunami Aceh 2004 menjadi pelajaran penting bahwa daerah yang berada di sepanjang pesisir Samudra Hindia, termasuk Kota Padang, Kota Pariaman, Kepulauan Mentawai, Kabupaten Pesisir Selatan, Agam hingga Pasaman, memiliki tingkat kerawanan yang tinggi terhadap potensi tsunami.
Apabila bencana besar terjadi, diperkirakan jutaan masyarakat akan membutuhkan lokasi evakuasi yang aman. Karena itu, pembangunan infrastruktur publik seharusnya tidak hanya mengejar aspek estetika dan fungsi olahraga, tetapi juga mengakomodasi fungsi mitigasi bencana.
Penulis menilai, momentum rehabilitasi Stadion GOR H. Agus Salim menjadi kesempatan strategis bagi pemerintah untuk menghadirkan fasilitas yang mampu berfungsi ganda sebagai pusat olahraga sekaligus shelter evakuasi vertikal ketika gempa dan tsunami terjadi.
Stadion Baru Dinilai Perlu Menyesuaikan Regulasi
Pengamat tata ruang, Yohanes Wempi, menilai desain Stadion H. Agus Salim yang beredar saat ini perlu dikaji kembali agar selaras dengan ketentuan peraturan daerah mengenai bangunan di kawasan rawan bencana.
Menurutnya, Perda Kota Padang Nomor 3 Tahun 2019 serta Perda Provinsi Sumatera Barat Nomor 6 Tahun 2011 mengatur bahwa bangunan pemerintahan maupun bangunan publik di kawasan rawan bencana wajib memperhatikan aspek keselamatan, termasuk penyediaan sarana evakuasi.
Ia menilai stadion sebagai fasilitas publik semestinya dirancang memiliki fungsi penyelamatan saat kondisi darurat, sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai lokasi evakuasi sementara ketika gempa dan tsunami terjadi.
Shelter Tsunami Memiliki Standar Teknis
Secara umum, shelter tsunami dibangun dengan beberapa kriteria utama, antara lain:
- Berada di kawasan rawan tsunami atau dekat pesisir.
- Memiliki struktur bertingkat dengan ketinggian yang memadai.
- Menggunakan konstruksi yang mampu menahan beban gempa dan terjangan gelombang.
- Memiliki akses evakuasi yang cepat dan mudah dijangkau masyarakat.
- Dirancang agar dapat menampung warga dalam jumlah besar saat keadaan darurat.
Selain memperkuat fungsi mitigasi bencana, penulis juga mengusulkan agar desain stadion mengakomodasi ornamen khas Minangkabau sebagaimana pernah disampaikan oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat, sehingga identitas budaya daerah tetap tercermin dalam bangunan tersebut.
Momentum Penyempurnaan Desain
Menurut penulis, sebelum pembangunan memasuki tahap konstruksi, masih terdapat ruang bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap desain stadion agar sesuai dengan regulasi serta kebutuhan mitigasi bencana di masa depan.
Dengan demikian, Stadion GOR H. Agus Salim tidak hanya menjadi kebanggaan olahraga Sumatera Barat, tetapi juga menjadi infrastruktur penyelamat yang mampu melindungi masyarakat ketika bencana besar terjadi.
Catatan Redaksi BNEWS: Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan tidak serta-merta mencerminkan sikap atau kebijakan redaksi BNEWS – budimannews.com.

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.