Memaknai Visi Religius di Tengah Efisiensi Anggaran Bagi Penyelenggara Pemerintahan Kota Tasikmalaya

Oleh : U. Heryanto (Ketua Majlis Santri Bangsa)

BNews, Visi religius yang di gelorakan oleh Walikota Wakil Walikota Tasikmalaya Viman-Dicky menjadi denyut awal segala itikad sikap dan ucapan bagi seluruh komponen masyarakat kota Tasikmalaya harus berdasarkan ilahiyah-ketuhanan

Terlebih segala tindak tanduk penyelenggara pemerintahan Kota Tasikmalaya disituasi saat ini harus mengencangkan ikat pinggang terkait pembatasan dana (efisiensi anggaran) untuk penyelenggaraan kegiatan kegiatan yang tidak berhubungan atau berdampak langsung dengan masyarakat seperti rapat-rapat, ceremony-ceremony, kunjungan kerja, dll.

Ada hikmah dibalik efisiensi anggaran yang diberlakukan oleh pemerintah pusat bagi kita semua terlebih bagi ASN Pemerintah Kota Tasikmalaya yaitu sebagai ruang penyadaran dan pembelajaran tentang arti pentingnya sikap, jiwa dan karakter qona’ah

Ruang gaya hidup yang glamour, mewah mewah, menghambur-hamburkan anggaran untuk kesenangan di zaman sekarang ini menjadi tantangan tersendiri, dengan adanya efisiensi anggaran menjadi pengingat dalam pemerintahan kota Tasikmalaya pentingnya ruh qona’ah.

Qona’ah secara etimologi artinya merasa cukup dengan apa yang ada, tidak tamak dan selalu bersyukur atas nikmat Alloh baik sedang luas maupun sedang sempit

Nabi Muhammad SAW bersabda yang diriwayatkan muslim
“قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ”
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang mencukupi dan Allah membuatnya merasa cukup (qana’ah) dengan apa yang diberikannya.”

Hadits ini menegaskan bahwa qana’ah merupakan salah satu jalan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia, karena orang yang qana’ah tidak akan terbebani oleh keinginan yang berlebihan.

Juga hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
“لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ”
“Kekayaan bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.”

Kekayaan hati yang dimaksud adalah rasa cukup atau qana’ah. Orang yang memiliki sikap qana’ah merasa cukup dengan apa yang dimilikinya dan tidak terus-menerus merasa kurang.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“إِنَّ أَعْظَمَ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ، وَإِنَّ أَعْظَمَ الْفَقْرِ فَقْرُ الْقَلْبِ”
“Sesungguhnya kekayaan terbesar adalah kekayaan jiwa, dan kemiskinan terbesar adalah kemiskinan hati.”

Sehingga dengan demikian, qana’ah adalah tanda dari kekayaan jiwa, dan sebaliknya, orang yang tamak meskipun memiliki harta banyak tetaplah miskin secara batin.

Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin
“القناعة هي الرضا بالقليل والإستغناء عن الكثير”
“Qana’ah adalah ridha dengan sedikit (pemberian) dan merasa cukup dari yang banyak.”

Jadi qana’ah bagi penyelenggara pemerintah kota Tasikmalaya terkhusus, umumnya bagi masyarakat kota Tasikmalaya bukan hanya simbol, sebutan dan visi saja tapi menjelma dalam setiap qolbu, nafas, ucapan, sikap dan kebijakan agar kemajuan kota Tasikmalaya bukan hanya bernilai duniawi tapi juga bernilai ukhrawi.

Wallohu’alam Bissowaf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *